Rabu, 30 Januari 2013


TUGAS IDIVIDU
Desa Swakarya di Desa Bunut Hulu Kecamatan Bunut Hilir
Kabupaten Kapuas Hulu
Provinsi Kalimantan Barat

Mata Kuliah  : Geografi Desa
Dosen              : Fitalis Mawardi M,Pd

DISUSUN
O
L
E
H

BERI GUNAWAN
231100268

Semester                                 :  3 Ganjil
Prodi                                       :  pendidikan geografi
Kelas                                       :  A. Sore
 





SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
 STKIP-PGRI  PONTIANAK
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan Laporan ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Desa Swakarya di Desa Bunut Hulu Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat ”.
Diharapkan Laporan ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang. Desa Swakarya di Desa Bunut Hulu Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat.
Kami menyadari bahwa Laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Laporan ini ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.





Pontianak 30 ,Januari, 2013

Penyusun
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A.    Latar Belakang................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah........................................................................... 3
C.     Tujuan ............................................................................................. 3
D.    Manfaat .......................................................................................... 3
BAB II LANDASAN TEORI............................................................................. 4
A.    Pengertian Desa............................................................................... 4
B.     Unsur Desa...................................................................................... 5
C.     Komponen Desa.............................................................................. 6
D.    Karakteristik Masyarakat Desa....................................................... 7
E.     Tipologi Desa.................................................................................. 9
F.      Pola Persebaran Pemukiman Desa................................................... 12
BAB III PEMBAHASAN................................................................................... 14
A.    Penduduk........................................................................................ 14
B.     Wilayah........................................................................................... 16
C.     Tata Kehidupan............................................................................... 17
BAB IV PENUTUP............................................................................................. 18
A.    Kesimpulan...................................................................................... 18
B.     Saran................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 20


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Provinsi Kalimantan Barat terletak di bagian barat pulau Kalimantan atau di antara garis 20  08’ LU serta 30 02’ LS serta di antara 1080 30’ BT dan 1140 10’ BT pada peta bumi. Berdasarkan letak geografis yang spesifik ini maka, daerah Kalimantan Barat tepat dilalui oleh garis Khatulistiwa (garis lintang 00) tepatnya di atas Kota Pontianak. Karena pengaruh letak ini pula, maka Kalimantan Barat adalah salah satu daerah tropik dengan suhu udara cukup tinggi serta diiringi  kelembaban yang tinggi.
Dilihat dari besarnya wilayah, maka Kalimantan Barat termasuk provinsi terbesar keempat di Indonesia. Pertama adalah Provinsi Papua (319.036 km2), kedua adalah Provinsi Kalimantan Timur (204.534 km2) dan ketiga adalah Provinsi Kalimantan Tengah (153.564 km2). Dilihat dari luas menurut kabupaten/kota, maka yang terbesar adalah Kabupaten Ketapang (31.240,74 km2 atau 21,28 persen) kemudian diikuti Kabupaten Kapuas Hulu (29.842 km2 atau 20,33 persen), dan Kabupaten Sintang (21.635 km2 atau 14,74 persen).
Secara umum, daratan Kalimantan Barat merupakan dataran rendah dan mempunyai ratusan sungai yang aman bila dilayari, sedikit berbukit yang menghampar dari Barat ke Timur sepanjang “Lembah Kapuas” serta Laut Natuna/Selat Karimata.
Saat ini, Provinsi Kalimantan Barat terdiri dari 14 (empat belas) kabupaten/kota yaitu dua belas kabupaten dan dua kota. Empat belas kabupaten/kota ini terbagi dalam 175 kecamatan yang seluruhnya terbagi lagi menjadi 1.894 desa/kelurahan. Kabupaten/kota tersebut adalah Kabupaten Sambas (19 kecamatan, 184 desa), Kabupaten Bengkayang (17 kecamatan, 124 desa/kelurahan), Kab. Landak (13 kecamatan, 156 desa).
Kab. Pontianak (9 kecamatan, 67 desa/kelurahan), Kab. Sanggau (15 kecamatan, 166 desa/kelurahan), Kab. Ketapang (20 kecamatan, 249 desa/kelurahan), Kab. Sintang (14 kecamatan, 287 desa/kelurahan), Kab. Kapuas Hulu (25 kecamatan , 212 desa/kelurahan), Kab. Sekadau (7 kecamatan, 76 desa), Kab. Melawi (11 kecamatan, 169 desa), Kab. Kayong Utara (5 kecamatan, 43 desa), Kab. Kubu Raya (9 kecamatan, 106 desa/kelurahan), ditambah Kota Pontianak (6 kecamatan, 29 kelurahan) dan Kota Singkawang (5 kecamatan, 26 kelurahan).
Berada di ujung timur Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu terdapat sebuah desa Swakarya yang terdapat di Kecamatan Bunut Hilir. Dengan pendapatan perkapita setahun mencapai 50-100 juta pertahun. Berdasarkan unsur-unsurnya, desa Bunut Hulu memiliki jumlah penduduk 2885 orang.
Desa Bunut Hulu Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, memiliki luas wiayah 2.675 km2 dengan memiliki batas wilyahnya, sebelah utara berbatasan dengan desa Tanjung Kapuas, bagian selatannya berbatasan Desa Nanga Tuan, bagian Timurnya berbatasan dengan Desa Nanga Siawan, dan bagian Baratnya berbatasan dengan Desa bunut Tengah.Tata kehidupan masyarat Desa Bunut Hulu sangat harmonis karena masih berpegang erat kepada aturan atau norma-norma yang berlaku di kehidupan mereka, sehingga adat istiadat atau kebiasaan sudah melekat erat di hati masyarakatnya sendiri.
Serta sudah mulai berkembang dengan cara pola fikir yang mulai maju dengan penggunaan teknologi dalam bidang pertanian dan perikanan serta sudah mampu mengelola alam dengan baik. Pada tata kehidupan masyarakat sudah ada banguna yang berfungsi , berguna untuk masayarakat seoertisekolah, puskesmas dan sebagainya.
Dengan bentuk topografi yang memiliki dataran rendah serta memiliki banyak sungai sehinnga kalimantan barat banyak memiliki desa-desa yang tergolong dalam desa swakarya. Kabupaten kapuas hulu memiliki banyak desa yang masih tertinggal yaitu Desa Bunut  Hulu Kecamatan Bunut hilir, termaksud kedalam desa swakarya .
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas rumusan masalah diatas , bagaimana keadaan Desa Swakarya di kalimantan barat tergolong Desa  Swakarya?
C.    Tujuan
Agar dapat mengetahui keaadaan desa-desa di Kalimantan Barat,.khususnya desa swakarya di Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu.
D.    Manfaat
Mengetahui keadaan Desa Swakarya di kalimantan barat terutama Desa Bunut Hulu, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu.










BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Pengertian
Istilah desa berasal dari bahasa India swadesi yang berarti tempat asal, tempat tinggal, negeri asal atau tanah leluhur yang merujuk pada satu kesatuan hidup dengan kesatuan norma serta memiliki batas yang jelas (Yayuk dan Mangku, 2003). Istilah desa dan perdesaan sering dikaitkan dengan pengertian rural dan village yang dibandingkan dengan kota (city/town) dan perkotaan (urban).
Konsep perdesaan dan perkotaan mengacu kepada karakteristik masyarakat sedangkan desa dan kota merujuk pada suatu satuan wilayah administrasi atau teritorial, dalam hal ini perdesaan mencakup beberapa desa (Antonius T, 2003).
Kuntjaraningrat (1977) mendefinisikan desa sebagai komunitas kecil yang menetap di suatu daerah, sedangkan Bergel (1995) mendefinisikan desa sebagai setiap pemukiman para petani. Landis menguraikan pengertian desa dalam tiga aspek; (1) analisis statistik, desa didefinisikan sebagai suatu lingkungan dengan penduduk kurang dari 2500 orang, (2) analisis sosial psikologis, desa merupakan suatu lingkungan yang penduduknya memiliki hubungan akrab dan bersifat informal diantara sesama warganya, dan (3) analisis ekonomi, desa didefinisikan sebagai suatu lingkungan dengan penduduknya tergantung kepada pertanian.
Di Indonesia penggunaan istilah tersebut digunakan dengan cara yang berbeda untuk masing-masing daerah, seperti dusun bagi masyarakat Sumatera Selatan, dati bagi Maluku, kuta untuk Batak, nagari untuk Sumatera Barat, atau wanua di Minahasa. Bagi masyarakat lain istilah desa memiliki keunikan tersendiri dan berkaitan erat dengan mata pencahararian, norma dan adat istiadat yang berlaku.
Zakaria (2000) menyatakan, desa adalah sekumpulan manusia yang hidup bersama atau suatu wilayah, yang memiliki suatu organisasi pemerintahan dengan serangkaian peraturanperaturan yang ditetapkan sendiri, serta berada di bawah pimpinan desa yang dipilih dan ditetapkan sendiri.
Definisi ini, menegaskan bahwa desa sebagai satu unit kelembagaan pemerintahan mempunyai kewenangan pengelolaan wilayah perdesaan. Wilayah perdesaan sendiri diartikan sebagai wilayah yang penduduknya mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam, dengan susunan fungsi wilayah sebagai pemukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintah, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
Dalam PP Nomor 76/ 2001 tentang Pedoman Umum Pengaturan mengenai Desa dinyatakan bahwa desa sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal-usul yang bersifat istimewa, sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 18 Undang-undang Dasar 1945. Dalam Bab 1, Ketentuan Umum, Pasal 1, dinyatakan bahwa “Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dala sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa desa merupakan suatu kesatuan masyarakat yang dibangun berdasarkan sejarah, nilai-nilai, budaya, hukum dan keistimewaan tertentu yang diakui dalam sistem kenegaraan kesatuan Republik Indonesia yang memiliki kewenangan untuk mengatur, mengorganisir dan menetapkan kebutuhan masyarakatnya secara mandiri.
B.     Unsur Desa
Desa memiliki tiga unsur utama sebagai berikut:
1.      Daerah ( wilayah ), berfungsi antara lain sebagai permukiman, pekarangan, persawahan, dan tegalan.
2.      Penduduk , berkaitan dengan kuantitas, ( jumlah kepadatan dan pertumbuhan ) dan kualitas ( mata pencaharian, pendidikan dan kesehatan).
3.      Tata kehidupan, berkaitan dengan kebiasaan, aturan, adat istiadat, dan tata pergaulan.

C.    Komponen Desa
Desa merupakan suatu subsistem dari keseluruhan yang lebih luas yang dinamakan negara.Desa sebagai suatu sistem memiliki komponen baik fisik, manusia, dan kelembagaan sosial.
Muhammad (1995) secara rinci menguraikan komponen desa sebagai berikut:
1.      Sumber daya pertanian dan lingkungan hidup
Perdesaan memiliki sumber daya pertanian dan lingkungan hidup sebagai penyangga kehidupan dan perekonomian masyarakat. Desa memiliki peran ganda sebagai penopang interaksi sosial dan peningkatan kesejahteraan, juga sebagai penyeimbang ekosistem lingkungan yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia.
2.      Perekonomian wilayah perdesaan
Kegiatan ekonomi perdesaan menyangkut kebutuhan pasar di luar daerah berupa komoditi primer dan sekunder. Keterkaitan pola produksi mendorong  integrasi kuat desa dengan wilayah lainnya.
3.      Kelembagaan sosial
Kegiatan perekonomian di perdesaan ditandai dengan eratnya hubungan petani, pedagang, peternak, penyebaran inovasi, pengelolaan sarana produksi pertanian lokal dan transportasi.
4.      Sumber daya manusia
Kualitas sumber daya manusia di wilayah perdesaan menjadi subjek atau pelaku utama yang menggerakkan roda perekonomian dan perubahan dalam jangka panjang. Sebagian besar mengendalikan sektor pertanian dan sangat terpengaruh dengan perubahan kebijakan yang berskala nasional, regional dan global.
5.      Sarana dan prasarana fisik
Disamping aktivitas sosial dan kelembagaan, desa ditunjang pula oleh ketersediaan sarana dan prasarana fisik untuk mendukung percepatan pembangunan dan perekonomian masyarakat serta untuk meningkatkan hubungan dan jaringan antara satu desa dengan desa lainnya.
D.    Karakteristik Masyarakat Desa
Dalam beberapa kajian dibedakan antara masyarakat kota (urban community) dan desa (rural community) berdasarkan letak geografis, kebiasaan dankarakteristik keduanya.
Menurut Roucek dan Warren (1962) masyarakat desa memiliki karakteristik sebagai berikut;
1.      peranankelompok primer sangat besar.
2.      faktor geografis sangat menentukan pembentukan kelompok masyarakat.
3.      hubungan lebih bersifat intim dan awet; (4) struktur masyarakatbersifat homogen.
4.      tingkat mobilitas sosial rendah.
5.      keluarga lebih ditekankan kepada fungsinya sebagai unit ekonomi.
6.      proporsi jumlah anak cukup besar dalam struktur kependudukan.

Sorokin dan Zimerman dalam T.L Smith dan P.E Zop (1970) mengemukakan sejumlah faktor yang menjadi dasar dalam menentukan karakteristik desa dan kota, yaitu; mata pencaharian, ukuran komunitas, tingkat kepadatan penduduk, lingkungan, diferensiasi sosial, stratifikasi sosial, interaksi sosial dam solidaritas sosial.
Secara psikologis masyarakat desa cenderung memiliki sifat konservatif dan ortodoks,fatalis dan suka curiga terhadap orang luar. Namun demikian, masyarakat desa dapat bersikap hemat, cermat dan menghormati orang lain yang terkadang sulit ditemukan di perkotaan. Beberapa ciri khas yang membedakan antara penduduk desa dengan kota diantaranya;
a)      Kehidupan dan mata pencaharian di desa sangat erat hubungannya dengan alam.
b)      Pada umumnya anggota keluarga mengambil peran dalam kegiatan bertani dengan tingkat keterlibatan yang berbeda-beda.
c)      Masyarakat desa sangat terikat dengan lingkungan dan nilai-nilai yang dianutnya.
d)     Terbangunnya kekerabatan yang sangat kuat, pola kehidupan keluarga dan masyarakat yang saling ketergantungan, sehingga berkembang nilai-nilai gotong royong, kerjasama, perasaan sepenanggungan dan tolong menolong.
e)      Corak feodalisme masih nampak meskipun dalam perkembangannya mulai berkurang.
f)       Hidup di desa banyak berkaitan dengan tradisi, nilai, norma adat yang telah berkembang secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga masyarakat desa cenderung di cap “statis”.
g)      Keterbukaan dan keterlibatan yang sangat erat dengan permasalahan rohani atau keagamaan sangat kental.
h)      Terkadang untuk sebagian masyarakat sangat meyakini nilai-nilai atau kepercayaan yang bersifat mistis sehingga kurang menerima hal-hal yang bersifat rasional dan kurang kritis.
i)        Karena kondisi alam atau kepadatan penduduk dengan beban tanggungan keluarga besar, sementara sempitnya lahan pekerjaan bagi masyarakat mengakibatkan kemiskinan dan kemelaratan sehingga mendorong sikap apatis.

E.     Tipologi Desa
Tipologi desa dapat dilihat dari beberapa aspek dominan seperti mata pencaharian dan pola interaksi sosial yang terbangun. Dari mata pencaharian pokok dapat ditentukan tipe desa beserta karakteristik dasarnya. Namun, akibat perkembangan teknologi dan informasi serta semakin kuatnya hubungan antara desa dengan kota, pembabakan tersebut sangat sulit diterapkan secara langsung. Meski demikian, ada beberapa tipologi yang masih dapat digunakan. Berdasarkan mata pencahariannya desa dibagi sebagai berikut;
1.      Desa pertanian terdiri dari desa pertanian berlahan basah dan kering, desa perkebunan yang dikelola oleh masyarakat sebagai pemilik dan swasta, serta desa nelayan (tambak, perikanan darat, pantai dan laut).
2.      Desa peternakan, dimana mata pencaharian utama sebagian besar penduduknya peternakan. Dalam kenyataannya hingga saat ini sangat sulit dijumpai desa yang homogen, meski ada mata pencaharian lain namun beternak menjadi mata pencaharian utamanya.
3.      Desa industri. Tipologi ini dibagi dalam dua macam;
a)      desa industri yang memproduksi alat pertanian secara tradisional maupun modern dengan sistem upah sesuai dengan“manajemen” masing-masing.
b)      desa industri yang memproduksi barang kerajinan, sepertiperabot rumah tangga terbuat dari kayu jati, rotan, dan bahan konveksi.
Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 11 Tahun 1972 tentang Pelaksanaan Klasifikasi dan Tipologi Desa di Indonesia digolongkan dalam tiga tingkatan yakni, desa swadaya, desa swakarsa dan desa swasembada.
1.      Desa swadaya merupakan desa yang paling terbelakang dengan budaya kehidupan tradisional dan sangat terikat dengan adat istiadat. Desa ini biasanya memiliki tingkat kesejahteraan yang sangat rendah, sarana dan prasarana minim serta sangat tergantung pada alam. Secara umum ciri-ciri desa swadaya sebagai berikut;
a)       Lebih dari 50% penduduk bermata pencaharian di sektor primer (berburu, menangkap ikan dan bercocok tanam secara tradisional).
b)       Produksi desa sangat rendah di bawah 50 juta rupiah per tahun.
c)      Adat istiadat masih mengikat kuat.
d)     Pendidikan dan keterampilan rendah, kurang dari 30% yang lulus sekolah dasar.
e)      Prasarana masih sangat kurang.
f)       Kelembagaan formal maupun informal kurang berfungsi dengan baik.
g)      Swadaya masyarakat masih sangat rendah sehingga kerapkali pembangunan desa menunggu instruksi dari atas.

2.      Desa swakarsa merupakan desa yang mengalami perkembangan lebih maju dibandingkan desa swadaya. Desa ini telah memiliki landasan lebih kuat dan berkembang lebih baik serta lebih kosmopolit. Desa swakarsa penduduknya mulai melakukan peralihan mata pencaharian dari sektor primer ke sektor lain. Secara umum ciri-ciri desa swakarsa sebagai berikut;
a)      Mata pencaharian penduduk mulai bergeser dari sektor primer ke industri, penduduk desa mulai menerapkan teknologi pada usaha taninya, kerajinan dan sektor sekunder mulai berkembang.
b)      Produksi desa masih pada tingkat sedang, yaitu 50-100 juta rupiah setiap tahun.
c)      Kelembagan formal dan informal mulai berkembang, ada 4-6 lembaga yang hidup.
d)      Keterampilan masyarakat dan pendidikannya pada tingkat sedang 30-60% telah lulus SD bahkan ada beberapa yang telah lulus sekolah lanjutan. Fasilitas dan prasarana mulai ada meski tidak lengkap, paling tidak ada 4-6 sarana umum yang tersedia di masyarakat.
e)      Swadaya masyarakat dan gotong royong dalam pembangunan desa mulai tampak meski tidak sepenuhnya.

3.      Desa swasembada merupakan desa yang memiliki kemandirian lebih tinggi dalam segala bidang terkait dengan aspek sosial dan ekonomi. Desa swasembada mulai berkembang dan maju dangan petani yang tidak terikat dengan adat istiadat atau pola tradisional. Prasarana dan sarana yang lebih lengkap dengan perekonomian lebih mengarah pada industri barang dan jasa. Sektor primer dan sekunder lebih berkembang. Ciri-ciri desa swasembada sebagai berikut;
a)      Mata pencaharian penduduk sebagian besar di sektor jasa dan perdagangan atau lebih dari 55% penduduk bekerja di sektor tertier.
b)       Produksi desa tinggi dengan penghasilan usaha di atas 100 juta rupiah setiap tahun.
c)      Adat istiadat tidak mengikat lagi meskipun sebagian masyarakat masih menggunakannya.
d)      Kelembagaan formal dan informal telah berjalan sesuai fungsinya dan telah ada 7-9 lembaga yang hidup.
e)      Keterampilan masyarakat dan pendidikannya pada tingkat 60% telah lulus SD, sekolah lanjutan bahkan ada beberapa yang telah lulus perguruan tinggi.
f)       Fasilitas dan prasarana mulai lengkap dan baik
g)      Penduduk sudah memiliki inisiatif sendiri melalui swadaya dan gotong royong dalam pembangunan desa.

F.     Pola Persebaran Pemukiman Desa
Pola persebaran desa dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain letak, keadaan iklim, kesuburan tanah, tata air, keadaan ekonomi.
Sehubungan dengan kondisi geografis yang tidak sama pada setiap kawasan, bentuk pola desa pun berbeda-beda. Pola persebaran desa yang banyak dijumpai di Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      Pola Memanjang (linier).
a.       Mengikuti jalan. Pola desa yang terdapat di sebelah kiri dan kanan jalan raya atau jalan umum. Pola ini banyak terdapat di dataran rendah.
b.      Mengikuti sungai. Pola desa ini bentuknya memanjang mengikuti bentuk sungai, umumnya terdapat di daerah pedalaman.
c.       Mengikuti rel kereta api. Pola ini banyak terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera karena penduduknya mendekati fasilitas transportasi.
d.       Mengikuti pantai. Pada umumnya, pola desa seperti ini merupakan desa nelayan yang terletak di kawasan pantai yang landai.
Maksud dari pola memanjang atau linier adalah untuk mendekati prasarana transportasi seperti jalan dan sungai sehingga memudahkan untuk bepergian ke tempat lain jika ada keperluan. Di samping itu, untuk memudahkan penyerahan barang dan jasa.
2.      Pola Desa Menyebar.
Pola desa ini umumnya terdapat di daerah pegunungan atau dataran tinggi yang berelief kasar. Pemukiman penduduk membentuk kelompok unit-unit yang kecil dan menyebar.
3.      Pola Desa Tersebar
Pola desa ini merupakan pola yang tidak teratur karena kesuburan tanah tidak merata. Pola desa seperti ini terdapat di daerah karet atau daerah berkapur. Keadaan topografinya sangat buruk.














BAB III
PEMBAHASAN
A. Penduduk
Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Indonesia selama enam bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari enam bulan tetapi bertujuan menetap. Pertumbuhan penduduk diakibatkan oleh tiga komponen yaitu: fertilitas, mortalitas dan migrasi.
Desa Bunut Hulu memiliki jumlah penduduk 2885 jiwa, komposisi penduduk Desa Bunut Hulu berdasar kan umur dan jenis kelamin pada tahun 2010.
1.      Komposisi penduduk menurut umur
Kelompok
umur

Penduduk
Jenis kelamin


Laki-laki

perempuan
0-5
250

132
6-10
100

115
11-15
200

145
16-20
220

105
20-25
110

220
26-30
100

110
31-35
105

100
36-40
145

50
41-45
115

100
50-60
132

100
60-65
50

51
65 keatas
50

50
Jumlah
1577

1278
Total 

2885

Data dari kecamatan bunut hilir dan desa bunut hulu.
Data pemukiman yang ada di desa bunut hulu kecamatan bunut hilir.
Pemukiman
Jumlah
Rumah
1500
Sekolah
4
Masjid
1
Surau
2
Pustu
1
Jumlah
1508
                        Data dari pemukiman desa bunut hulu.
Ratio beban ketergantungan
 x 100
Desa Bunut Hulu mempunyai data penduduk unur 0-14 tahun sebanyak 942 jiwa, 15- 64 tahun 1713 jiwa. Sedangkan umur yang lebih dari 65 tahun sebanyak 100 jiwa, jadi jumlah angka tergantungan sebagai berikut.
 x 100
 x 100
 x 100
= 61,00%
Berdasarkan dari perhitungan angka ketergantungan. Jadi angka ketergantungan desa Bunut Hulu berjumlah 61,0.
2.      Komposisi penduduk menurut jenis kelamin
 x 100

Dari data diatas jumlah penduduk Desa bunut hulu, penduduk laki-laki 1577 dan jumlah penduduk perempuannya adalah 1278.
 x 100
 x 100
 x 100
 x 100
= 123,39%
Jadi sek ratio desa bunut hulu berjumlah 123, 39%.

B.     Wilayah
Wilayah dapat dilihat sebagai suatu ruang pada permukaan bumi, pengertian permukaan bumi menunjuk pada suatu tempat atau lokasi yang dilihat secara horizontal dan vertikal. Wilayah sering dibedakan artinya dengan kata daerah atau kawasan. Wilayah dapat diartikan sebagai satu kesatuan ruang yang mempunyai tempat tertentu tanpa terlalu memperhatikan soal batas dan kondisinya. Atau juga wilayah dapat diartikan, suatu areal yang memiliki karakteristik arela bisa sangat kecil maupun sangat besar, suatu wilayah diklasifikasikan berdasarkan satu atau beberapa karekteristik, misalnya berdasarkan iklim, relief dipebatuan, pola pertanian, tumbuhan alami, kegiatan ekonomi dan sebagainya.
1.      Purnomo Sidi (1981) mengatakan bahwa wilayah adalah sebutan untuk lingkungan permukaan bumi yang jelas batasannya.
2.       Imanuel Kaant (1982) mengatakan wilayah adalah sesuatu ruang di permukaan bumi yang mempunyai spesifik dan dalam aspek tertentu berbeda antara dua titik dalam garis lurus.

Berdasar wilayah Desa Bunut Hulu Kecamatan Bunut Hilir terletak di bantaran sungai kapuas dan di muara sungai Batang Bunut.  Desa Bunut Hulu Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, memiliki luas wiayah 2.675 km2 dengan memiliki batas wilyahnya, sebelah utara berbatasan dengan desa Tanjung Kapuas, bagian selatannya berbatasan Desa Nanga Tuan, bagian Timurnya berbatasan dengan Desa Nanga Siawan, dan bagian Baratnya berbatasan dengan Desa bunut Tengah.

C.    Tata Kehidupan
Tata kehidupan masyarakat Desa Bunut Hulu Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas hulu dilihat dari data yang ada ,dilihat dari sumber daya manusinya sudah mulai maju dalam penggunaan teknologi , tapi kebiasaan dan adat istiadat masih melekat dalam mayarakat ini seperti hukum adat dan agama.
Didalam bidang pendidikan sudah banyak masyarakat sekolahnya diatas sd bahakan ada yang sudah selesai perguruan tinggi, namun yang masih kendala dalam masyarakat ini yaitu tentang akses jalan yang belum memadai bahkn belum ada jalan penguhubung yang bisa dilalui jalan darat semuannya masih menggunakan transportasi sungai.
BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Provinsi Kalimantan Barat terdiri dari 14 (empat belas) kabupaten/kota yaitu dua belas kabupaten dan dua kota. Empat belas kabupaten/kota ini terbagi dalam 175 kecamatan yang seluruhnya terbagi lagi menjadi 1.894 desa/kelurahan. Kabupaten/kota tersebut adalah Kabupaten Sambas (19 kecamatan, 184 desa), Kabupaten Bengkayang (17 kecamatan, 124 desa/kelurahan), Kab. Landak (13 kecamatan, 156 desa)
Kab. Pontianak (9 kecamatan, 67 desa/kelurahan), Kab. Sanggau (15 kecamatan, 166 desa/kelurahan), Kab. Ketapang (20 kecamatan, 249 desa/kelurahan), Kab. Sintang (14 kecamatan, 287 desa/kelurahan), Kab. Kapuas Hulu (25 kecamatan , 212 desa/kelurahan), Kab. Sekadau (7 kecamatan, 76 desa), Kab. Melawi (11 kecamatan, 169 desa), Kab. Kayong Utara (5 kecamatan, 43 desa), Kab. Kubu Raya (9 kecamatan, 106 desa/kelurahan), ditambah Kota Pontianak (6 kecamatan, 29 kelurahan) dan Kota Singkawang (5 kecamatan, 26 kelurahan).
Berada di ujung timur Kalimantan Barat tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu terdapat sebuah desa Swakarya yang terdapat di Kecamatan Bunut Hilir. Dengan pendapatan perkapita setahun mencapai 50-100 juta pertahun. Berdasarkan unsur-unsurnya, desa Bunut Hulu memiliki jumlah penduduk 2885 orang.
Desa Bunut Hulu Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, memiliki luas wiayah 2.675 km2 dengan memiliki batas wilyahnya, sebelah utara berbatasan dengan desa Tanjung Kapuas, bagian selatannya berbatasan Desa Nanga Tuan, bagian Timurnya berbatasan dengan Desa Nanga Siawan, dan bagian Baratnya berbatasan dengan Desa bunut Tengah.Tata kehidupan masyarat Desa Bunut Hulu sangat harmonis karena masih berpegang erat kepada aturan atau norma-norma yang berlaku di kehidupan mereka, sehingga adat istiadat atau kebiasaan sudah melekat erat di hati masyarakatnya sendiri.
Serta sudah mulai berkembang dengan cara pola fikir yang mulai maju dengan penggunaan teknologi dalam bidang pertanian dan perikanan serta sudah mampu mengelola alam dengan baik. Pada tata kehidupan masyarakat sudah ada banguna yang berfungsi , berguna untuk masayarakat seoertisekolah, puskesmas dan sebagainya.
Dengan bentuk topografi yang memiliki dataran rendah serta memiliki banyak sungai sehinga kalimantan barat banyak memiliki desa-desa yang tergolong dalam desa swakarya. Kabupaten kapuas hulu memiliki banyak desa yang masih tertinggal yaitu Desa Bunut  Hulu Kecamatan Bunut hilir, termaksud kedalam desa swakarya .
B.     Saran
Dengan bentuk topografi yang memiliki dataran rendah serta memiliki banyak sungai sehinga kalimantan barat banyak memiliki desa-desa yang tergolong dalam desa swakarya. Kabupaten kapuas hulu memiliki banyak desa yang masih tertinggal yaitu Desa Bunut  Hulu Kecamatan Bunut hilir, termaksud kedalam desa swakarya .
Pemerintah harus berperan penting dalam penanganan desa khusunya dalam pendanaan dan pembangunan fasilitas. Terutama perangkat desa yang ada harus lebih sigap dan bijaksana dalam pengelolaan potensi daerah tersebut dengan melihat keadaan lingkungan yang bisa dikelola dengan baik untuk memnuhi kebutuhan mmasyarakat dan pendapatn daearh tersebut.
Pembangunan tidak akan berjalan dengan tanpa adanya dukungandari masyarakat sendiri dalam pelaksanaanya meski peran pemerintah dalam desa sudah berjalan namun masyarakatya tidak bisa melaksanakanya maka pembangunan daerah tersebut tidak akan berkembangan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Dody S. (2003) Perencanaan Pembangunan Partisipatif Kota Solo;          Pendekatan Pembangunan Nguwongke-Uwong. Solo: IPGI.

Alkadri dkk. (1999) Manajemen Teknologi untuk Pengembangan Wilayah. Jakarta: Direktorat Kebijaksanaan Teknologi untuk Pengembangan Wilayah-BPPT.

Data BPS Provinsi Kalimantan Barat tentang data desa Kalimantan Barat.



1 komentar:

  1. Casino.org: FAQ - Dr.MCD
    Casino.org 동해 출장마사지 FAQ. If you want to 이천 출장안마 see our 수원 출장샵 FAQ for casinos, please visit www.casino.org. This 안성 출장안마 page will 사천 출장안마 explain everything you need to know about

    BalasHapus